Transmisi Tegangan Tinggi DC (HVDC)
High Voltage Direct Current atau
biasa disingkat dengan HVDC merupakan salah satu metoda untuk menyalurkan
energi listrik dengan menggunakan listrik DC (Direct Current) berteangan
tinggi. Listrik DC didapatkan dari mengubah listrik ac (Alternating Current)
menggunakan penyearah (rectifier), atau pun sebaliknya dimana listrik ac
dapat diubah dari listrik DC menggunakan inverter. Untuk aplikasi
penyaluran arus yang besar dan level tegangan tinggi,
semikonduktor jenis thyristor yang biasa digunakan pada rectifier dan
inverter.
Sistem transmisi
HVDC terdiri dari tiga bagian dasar: 1) Stasiun konverter untuk mengkonversi AC
ke DC 2), saluran transmisi DC, dan 3) Stasiun konverter kedua untuk
mengkonversi kembali AC (Lihat gambar di atas). Ketiga bagian dasar ini
digunakan untuk mengakomodasi sistem kelistrikan yang sudah ada sekarang yang
adalah sistem transmisi HVAC.
Arus bolak-balik
(AC) menjadi sangat akrab bagi industri dan pembangkitan energi listrik, tetapi
untuk jalur transmisi yang panjang, AC memiliki beberapa kekurangan. Kekurangan
pada transmisi jarak jauh inilah yang membuat pengembangan sistem transmisi
HVDC diperlukan. Batasan arus dan tegangan insulasi adalah dua faktor penting
saluran transmisi tegangan tinggi.
Pemakaian High
Voltage Direct Current transmission (HVDC) atau dalam istilah Bahasa
Indonesia dikenal sebagai transmisi daya arus searah (TDAS) sebenarnya
sudah dimulai sejak awal pertama kali listrik dikembangkan. Thomas Alva Edison
berhasil membuat jaringan listrik berkapasitas 6 x 100kW untuk menyalakan 1200
bohlam lampu menggunakan arus searah pada tahun 1882. Walaupun pada
perkembangannya, sistem dc yang dikembangkan Edison ternyata ‘kalah’ bersaing
dengan sistem ac yang diusulkan oleh Westinghouse dan Tesla namun sistem dc ini
telah menandai dimulainya era baru, era listrik. Lebih dari 70 tahun kemudian,
sistem transmisi dc mulai dipakai kembali setelah ditemukannya tabung mercury-arc
di akhir tahun 1920-an. Proyek HVDC komersil pertama kali berhasil dibangun
tahun 1950 menggunakan kabel laut untuk menghubungkan Swedia dengan P. Gotland
dengan kapasitas 20MW pada tegangan 100kV.
Pada tulisan ini
akan dipaparkan secara ringkas teknologi, konfigurasi, dan aplikasi dari
transmisi daya arus searah (HVDC).
HVDC
mulai dipakai kembali karena teknologi tabung/mercury-arc sudah mulai
mapan sehingga konverter daya ac/dc atau dc/ac bisa dibuat, suatu hal yang
tidak bisa dilakukan pada tahun 1880-an yang mengakibatkan sistem arus searah
Edison kalah dari sistem arus bolak-balik Westinghouse. Teknologi tabung mercury-arc
sendiri hanya bertahan sekitar 20 tahun sampai ditemukannya thyristor pada
sekitar tahun 1970. Thyristor ini yang menjadi dasar perkembangan pesat dari teknologi
HVDC karena bisa dibuat untuk keperluan daya besar, dibandingkan
transistor/IGBT yang dengan teknologi saat ini memiliki kapasitas daya lebih
kecil daripada thyristor. Satu dekade terakhir, perkembangan teknologi IGBT
memungkinkan konverter untuk HVDC dibuat dengan menggunakan IGBT, walaupun
kapasitas dayanya masih lebih kecil daripada sistem HVDC yang menggunakan
konverter thyristor.
Dimulai
dari 20MW di Swedia, sekarang ini sudah lebih dari 100 jalur transmisi HVDC
yang aktif di dunia dengan total kapasitas mencapai lebih dari 80GW (Gambar 2)
tersebar mulai dari Amerika Utara, Skandinavia, Jepang, China, India, Brazil,
dsb. Dimulai dari tegangan 100 kV hingga sekarang mencapai 500kV, dan 800kV
sedang dalam tahap pembangunan. Beberapa proyek HVDC yang cukup terkenal
diantaranya Gotland HVDC di Swedia selain HVDC pertama juga merupakan HVDC yang
menggunakan thyristor pertama kali; Itaipu HVDC di Brazil (2 x 3150MW, +/-
500kV, 800 km) yang merupakan sistem HVDC terbesar saat ini, Kii-Channel HVDC
di Jepang (1400MV, +/- 250kV) yang menggunakan thyristor light-triggered
8kV – 3500A.
Teknologi
HVDC
Terdapat 2 jenis
teknologi konverter ac/dc/ac yang digunakan pada sistem HVDC saat ini. HVDC
yang menggunakan Current source converter (CSC) komutasi jala-jala
menggunakan thyristor dan HVDC yang menggunakan Voltage source converter (VSC)
yang menggunakan IGBT.
Teknologi CSC-HVDC
sudah sangat mapan untuk konverter berdaya sangat besar. Untuk keperluan diatas
1000MW teknologi ini menjadi satu-satunya pilihan saat ini. Itaipu HVDC adalah
sistem HVDC terbesar saat ini yang beroperasi secara komersil menggunakan
CSC-HVDC. Proyek CSC-HVDC terbesar yang sedang dibangun saat ini adalah
Xiangjiaba – Shanghai HVDC yang mentransmisikan daya 6400MW pada 800kV sejauh
2071 km.
Komutasi jala-jala
merupakan salah satu kelemahan yang ada pada CSC-HVDC, akibatnya pada HVDC yang
menggunakan CSC diperlukan jaringan arus bolak-balik yang kuat di sisi kirim
maupun sisi terima. Gambar 3 menunjukkan HVDC yang menggunakan CSC.
VSC-HVDC merupakan
perkembangan terbaru dari teknologi HVDC. Hampir sejak satu dekade terakhir,
beberapa proyek VSC-HVDC berhasil dibangun dan mencapai tahap komersil.
Keunggulan VSC-HVDC dibanding CSC-HVDC adalah kemampuannya untuk komutasi tanpa
bergantung kondisi jala-jala, pengaturan daya aktif dan reaktif yang
independen, serta kemampuan untuk black-start. Keunggulan tersebut membuat
VSC-HVDC menarik untuk aplikasi penyaluran daya ke beban berjarak jauh yang
tidak memiliki sumber jala-jala lokal, seperti pada anjungan lepas pantai, dsb.
Kelemahan VSC-HVDC
adalah teknologi IGBT sekarang belum mampu untuk melayani transmisi daya
berkapasitas besar seperti halnya CSC-HVDC. Proyek VSC-HVDC terbesar saat ini
adalah Ciprivi Line HVDC di Namibia yang berkapasitas 300MW pada 350kV sejauh
970 km. Gambar 4 menunjukkan HVDC yang menggunakan VSC.
Konfigurasi
HVDC
Pemilihan
konfigurasi sangat bergantung pada kondisi lokal, tujuan, dan faktor ekonomi.
Baik VSC ataupun CSC-HVDC dapat menggunakan konfigurasi yang sama, modifikasi dapat
dilakukan bergantung kondisi lokal masing-masing.
Back-to-back
Konfigurasi ini
ditunjukkan pada Gambar 5. Pada konfigurasi ini gardu induk konverter berada
pada lokasi yang sama dan tidak menggunakan saluran arus searah jarak jauh.
Umumnya konfigurasi ini berfungsi sebagai interkoneksi frekuensi antara dua
sistem arus bolak-balik yang berdekatan, walaupun konfigurasi ini juga bisa
dipakai pada interkoneksi dua sistem arus bolak-balik yang memiliki frekuensi
yang sama.
Monopolar
Konfigurasi ini
ditunjukkan pada Gambar 6. Pada konfigurasi ini dua gardu induk konverter
dipisahkan menggunakan satu saluran arus searah berjarak jauh, berbeda dengan
konfigurasi back-to-back yang hanya membutuhkan satu lokasi saja.
Saluran arus searah yang dipakai hanya memiliki 1 kutub tegangan, bisa positif
saja atau negatif saja, sehingga tanah diperlukan sebagai saluran balik arus.
Bipolar
Konfigurasi ini ditunjukkan pada Gambar 7.
Pada konfigurasi ini dua gardu induk konverter dipisahkan menggunakan dua
saluran arus bolak-balik yang berbeda kutub tegangan, satu positif dan satu
lagi negatif. Relatif terhadap tanah, konfigurasi bipolar merupakan dua buah
konfigurasi monopolar yang berbeda kutub tegangan, sehingga masing-masing
monopolar dapat dioperasikan secara independen. Pada keadaan normal arus yang
mengalir melalui tanah akan bernilai nol akibat dua kutub monopolar yang
berbeda. Keunggulan konfigurasi ini adalah salah satu kutub tegangan tetap
dapat beroperasi ketika kutub tegangan yang lainnya tidak beroperasi akibat
gangguan atau alasan lain. Reliabilitas konfigurasi ini lebih baik daripada
konfigurasi monopolar.
Multiterminal
Konfigurasi ini
ditunjukkan pada Gambar 8. Konfigurasi ini adalah perluasan dari konfigurasi
bipolar dengan menempatkan gardu konverter baru di tengah-tengah saluran
bipolar. Jumlah saluran masuk di tengah-tengah konfigurasi bipolar tidak
dibatasi hanya satu, melainkan bisa banyak sesuai dengan keperluan.
Pemanfaatan
HVDC
Penggunaan sistem
transmisi arus bolak-balik yang sudah menyeluruh memang memberikan keuntungan
harga yang lebih kompetitif karena pasar dan produsen sudah sama-sama mapan,
dibandingkan dengan transmisi HVDC yang masih relatif lebih sedikit pemakainya.
Namun sistem HVDC akan dipandang lebih menguntungkan dibandingkan sistem ac
pada beberapa aplikasi tertentu.
Transmisi
jarak jauh
Pada transmisi
daya besar dengan jarak yang jauh, HVDC memberikan alternatif yang kompetitif
secara ekonomi terhadap sistem transmisi arus bolak-balik Terlepas dari adanya
tambahan rugi-rugi akibat penggunaan konverter dibandingkan pada sistem arus
bolak-balik, rugi-rugi saluran pada transmisi HVDC bisa lebih kecil 30%-50%
dari ekuivalen saluran arus bolak-balik pada jarak yang sama. Pada jarak yang
sangat jauh, sistem transmisi arus bolak-balik membutuhkan gardu induk di
tengah saluran dan juga kompensasi reaktif. Dibandingkan dengan transmisi arus
searah yang tidak memerlukan gardu induk intermediet. Jarak tipikal yang
dianggap pemakaian sistem HVDC akan menguntungkan secara ekonomis daripada
transmisi arus searah adalah sekitar 500 km keatas.
Penggunaan
kabel
Pada kasus jika
penggunaan kabel diperlukan, seperti pada transmisi yang melewati laut, atau
transmisi yang dirancang bawah tanah, penggunaan HVDC memberikan keuntungan
lebih secara ekonomis daripada penggunaan kabel arus bolak-balik. Permasalahan
lain pada penggunaan kabel dengan sistem arus bolak-balik adalah penurunan
kapasitas daya kabel karena jarak yang jauh akibat daya reaktif yang cukup
tinggi. Ini dikarenakan karakteristik kabel yang memiliki kapasitansi yang
lebih besar dan induktansi yang lebih kecil daripada ekuivalen konduktor udara.
Interkoneksi
frekuensi
Interkoneksi
antara 2 area yang berbeda frekuensi hanya bisa dilakukan dengan menggunakan
HVDC untuk menjamin kelangsungan operasi yang handal. Contohnya adalah gardu
induk Shin-Shinano 600 MW yang menghubungkan Jepang bagian barat yang
berfrekuensi 60 Hz dengan Jepang bagian timur yang berfrekuensi 50 Hz. Tidak
hanya pada kasus seperti Shin-Shinano yang beda frekuensi operasi diantara dua
terminalnya, beberapa kasus lain menggunakan konverter frekuensi HVDC untuk
menghubungkan antara dua perusahaan listrik yang berbeda. Selain untuk
pengaturan aliran daya, hal ini dimaksudkan untuk melindungi area perusahaan
satu dari fluktuasi frekuensi di perusahaan tetangga disamping juga untuk
mencegah menjalarnya gangguan akibat dari perusahaan tetangga.
Penggunaan HVDC
Walaupun mayoritas transmisi
kelistrikan di seluruh dunia menggunakan sistem HVAC karena fleksibilitasnya,
pada beberapa kasus terdapat keuntungan untuk mengaplikasikan transmisi HVDC,
terutama pada kondisi:
- Dibutuhkan
penyaluran daya yang besar (>500MW) dengan jarak amat jauh (>500km),
dimana jalur transmisi HVAC rentan terhadap ketidakstabilan karena faktor
impedansi jalur yang panjang
contoh sistem :
Proyek Sungai Nelson ke Winnipeg, Kanada – kapasitas 1.800MW jarak 930 km;
Bendungan Three Gorges ke Shanghai, China – kapasitas 3.000MW jarak 1.000km;
Celilo Converter Station ke Los Angeles, US -kapasitas 3.100MW jarak 1361km - Dibutuhkan
penyaluran daya listrik melintasi perairan yang luas
contoh sistem :
Moyle interconnector, Irlandia Utara – Skotlandia dengan jarak 64km - Dimana
sambungan HVAC tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk menahan electrical
swing yang dapat muncul antara dua sistem
contoh sistem:
sambungan dari Hydro Quebec ke US - Sambungan
pada dua sistem elektrik yang beroperasi pada frekuensi yang berbeda,
biasa disebut dengan istilah sambungan back-to-back
contoh sistem:
HVDC antara Inggris dan Prancis dan antara Jepang bagian utara dan bagian selatan - Memberikan isolasi dari kontribusi arus hubung singkat (short circuit) dari sistem yang dekat, karena DC tidak menyalurkan arus hubung singkat dari sistem yang satu ke sistem yang lain.
Keuntungan HVDC
Berikut ini beberapa kelebihan yang
dimiliki HVDC bila dibandingkan dengan HVAC:
- Kabel awah laut dengan kapasitansi tinggi menyebabkan rugi-rugi (losses) tambahan pada sistem AC
- Penyaluran daya listrik antara titik tanpa tap tegangan perantara (intermediate tap)
- Menambah kapasitas jaringan listrik eksisting pada situasi dimana kabel/konduktor tambahan sulit atau mahal untuk dipasang
- Saluran transmisi antar dua sistem distribusi AC yang tak sinkron
- Mengurangi ukuran pengkabelan -karena untuk ukuran konduktor yang sama kapasitas untuk HVDC lebih besar dari HVAC
- Penyambungan pembangkit yang memiliki jarak jauh dari jaringan
- Mengurangi rugi-rugi akibat korona (corona losses) bila dibandingan dengan HVAC untuk kapasitas yang sama
- Mengurangi biaya kabel/konduktor jaringan
Secara khusus transmisi HVDC
memiliki keuntungan pada transmisi listrik kabel bawah laut, karena
jenis transmisi tersebut memiliki nilai kapasitansi yang tinggi.
Kelebihan Sistem Transmisi HVDC
Pertama, jumlah kabel/ konduktor yang digunakan. Pada sistem
transmisi DC, jumlah konduktor yang digunakan adalah 2 buah (untuk tegangan
positif dan tegangan negatif/ ground). Pada sistem transmisi AC, jumlah
konduktor yang digunakan adalah 3 buah. Dengan jumlah konduktor yang lebih
sedikit, berarti biaya pengadaan untuk konduktor untuk transmisi DC adalah 2/3
transmisi AC. Apalagi dengan desain arus dan tegangan tinggi, perbedaan 1/3
biaya pengadaan konduktor ini akan sangat besar menghemat biaya.
Kedua, hambatan konduktor AC lebih tinggi dari resistansi
DC karena adanya skin effect. Skin effect merupakan fenomena pada
saluran transmisi yang disebabkan karena tidak meratanya distribusi arus pada
penampang konduktor di sepanjang saluran transmisi jarak jauh. Fenomena
ini muncul sesuai dengan peningkatan panjang efektif konduktor saluran trasmisi
sehingga skin effect pada saluran transmisi pendek jarang ditemui.
Pada saluran transmisi sistem tegangan arus searah (DC-Direct Current),
distribusi arus pada penampang di sepanjang saluran penghantar merata, sehingga
hampir tidak pernah ditemukan skin effect pada sistem saluran transmisi
Tegangan DC. Lain halnya dengan saluran transmisi tegangan AC, pada saluran
transmisi ini terjadi fenomena di mana aliran arus cenderung mengalir
dengan kepadatan tinggi melalui permukaan konduktor (yaitu kulit konduktor),
meninggalkan inti konduktor, bahkan kadang kala muncul suatu kondisi ketika
benar-benar tidak ada arus mengalir melalui inti, dan berkonsentrasi seluruhnya
pada daerah permukaan. Fenomena ini dapat mengakibatkan peningkatan nilai
resistansi efektif konduktor sehingga mengakibatkan kehilangan/ losses yang
lebih tinggi untuk transmisi AC.
Selain itu, itu
lonjakan arus saat terjadi gangguan pada transmisi HVAC mencapai dua
atau tiga kali tegangan puncak yang normal, sedangkan untuk transmisi HVDC itu
adalah 1,7 kali tegangan normal. Hal ini berimplikasi pada desain sistem
proteksi transmisi (relay dan sensor) yang membutuhkan kapasitas desain yang
lebih besar untuk transmisi HVDC dibandingkan HVAC.
Beberapa hal ini
yang harusnya menjadi bahan pemikiran kita untuk mengembangkan transmisi HVDC
untuk menyalurkan energi listrik dalam jumlah besar dan jarak yang jauh, sangat
cocok untuk dikembangkan di Indonesia, khususnya untuk menyambungkan sistem
kelistrikan besar seperti Jawa-Sumatera-Bali-dan Kalimantan.
Berhubungan dengan keuntungan dan kerugiannya, dewasa ini saluran transmisi di dunia sebagian besar menggunakan saluran transmisi AC. Saluran transmisi DC baru dapat dianggap ekonomis jika jarak saluran udaranya antara 400km sampai 600km, atau untuk saluran bawah tanah dengan panjang 50km. hal itu disebabkan karena biaya peralatan pengubah dari AC ke DC dan sebaliknya (converter & inverter) masih sangat mahal, sehingga dari segi ekonomisnya saluran AC akan tetap menjadi primadona dari saluran transmisi. Berhubungan dengan keuntungan dan kerugiannya, dewasa ini saluran transmisi di dunia sebagian besar menggunakan saluran transmisi AC. Saluran transmisi DC baru dapat dianggap ekonomis jika jarak saluran udaranya antara 400km sampai 600km, atau untuk saluran bawah tanah dengan panjang 50km. hal itu disebabkan karena biaya peralatan pengubah dari AC ke DC dan sebaliknya (converter & inverter) masih sangat mahal, sehingga dari segi ekonomisnya saluran AC akan tetap menjadi primadona dari saluran transmisi.
Sisi lain HVDC
Pada setiap sistem tentunya terdapat
kelebihan-kelebihan, namun di sisi lain terdapat kerugian yang dipertimbangkan
sebelum mengaplikasikan HVDC. Berikut adalah kekurangan HVDC bila dibandingkan
HVAC
- Harga yang mahal terutama untuk biaya stasiun konversi dari dan ke jaringan listrik AC
- Sistem yang relatif rumit, karena pengontrolan aliran daya yang berbeda dengan sistem AC, dimana harus terdapat feedback dan komunikasi yang kontinu antar terminal – berbeda dengan aliran daya AC yang dapat secara otomatis dipengaruhi karakteristik jaringan
- Stasiun konversi dapat menghasilkan arus dan tegangan harmonisa serta mengonsumsi daya reaktif. Oleh karenanya, dibutuhkan pemasangan unit kompensasi untuk filter harmonisa dan daya reaktif yang harganya cukup mahal.
- Pada kasus terjadinya gangguan daya (power fault) dan arus hubung singkat pada inverter dan rectifier, jaringan HVDC pun akan terkena dampaknya
- Pada beberapa kasus ditemukan bahwa sistem transmisi DC dapat menyebabkan noise pada radio dan jalur komunikasi yang dekat.
- Pentanahan (Grounding) transmisi yang kompleks dan cukup sulit untuk diinstall, karena diperlukan pentanahan yang handal (reliable) dan memiliki kontak permanen untuk operasi yang sesuai dan menghilangkan kemungkinan terjadinya “step voltage” yang berbahaya.
- Aliran arus yang melewati tanah pada sistem DC monopole dapat menyebabkan korosi elektris (electro-corrosion) pada instalasi metal bawah tanah, terutama pipa bawah tanah.
Beberapa kekurangan HVDC di atas
tentunya dapat dieliminasi terutama dengan dikembangkannya teknologi baru. Efek
gangguan daya pada HVDC saat terjadinya hubung singkat di sisi AC serta
konsumsi daya reaktif dapat dieliminasi atau dikurangi dengan penggunaan
turn-off thyristor yang kini banyak dikembangkan untuk kapasitas yang
besar. Penyempurnaan sistem pentanahan pun banyak dikembangkan dengan
mengurangi akibat korosi elektris, terutama dengan sistem ‘metal return‘
yang mencegah arus mengalir melewati tanah.
KESIMPULAN1. Terdapat dua keadaan teknis penggunaan
transmisi tegangan tinggi arus searah.
•Untuk koneksi
sistem – sistem yang besar melalui link – link berkapasitas kecil.
•Penggunaan kabel
–kabel tegangan tinggi diperlukan untuk jarak cukup jauh.
2. Keuntungan penggunaan transmisi DC adalah
rugi-rugi yang muncul pada saluran menjadi jauh lebih kecil, biaya
investasi pembuatan saluran transmisi lebih rendah, serta masalah stabilitas
sistem yang lebih terjamin.3. Kelemahan -kelemahan dari transmisi DC adalah permasalahan switching yang tidak dapat dilakukan pada transmisi arus searah sehingga harus dilakukan pada arus bolak-balik, mahalnya biaya pembuatan gardu konverter, serta masalah transformasi tegangan.
4. Saluran transmisi tegangan tinggi arus searah diklasifikasikan menjadi; saluran monopolar, saluran bipolar dan saluran homopolar.
5. Bumi dapat digunakan sebagai suatu hantaran balik pada transmisi tegangan tinggi arus searah.
https://www.youtube.com/watch?v=k65QM3eRHm4
Komentar
Posting Komentar